Sabtu, 12 Maret 2011

Dimanakah Cinta yang Dirindukan


Waktu ini semakin cepat berjalan dengan indahnya, namun apakah kita telah merasakan kasih sayang? Kasih sayang? Mungkin, kata itu masih ada dalam pembicaraan para remaja atau pun mahasiswa seperti kita saat ini. Yap…“Hari Kasih Sayang” atau yang disebut “Valentine Day” tepatnya tanggal 14 Februari kemarin. Namun, tahukah anda prinsipnya “Valentine Day” adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama  Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine (dikutip dari http://tanbihul_ghafilin.tripod.com).


Dengan penjelasan singkat di atas masihkah kita tetap ingin merayakannya? Kasih sayang itu memang indah, tidak kalah bahagianya ketika membicarakan cinta. Cinta sebuah kata yang mungkin menjadi alasan untuk para remaja untuk tetap merayakan hari itu. Namun, banyak peristiwa yang telah hadir di depan mata kita menunjukkan bahwa telah terjadi banyak persoalan yang terjadi karena cinta yang tak semestinya. Pergaulan bebas, pernikahan dini, hamil di luar nikah, dan terbesarnya adalah kematian akibat aborsi.

Apakah itu sebuah cinta? Yang mengakibatkan sebuah penyelasan, rasa malu dan bahkan kematian. Itu bukan cinta. Lalu bagaimana Islam memandang cinta? Islam memandang cinta sebagai sesuatu yang biasa dan sederhana. Islam adalah agama fitrah, sedang cinta itu sendiri adalah fitrah kemanusian. Allah swt juga telah menanamkan perasaan cinta yang tumbuh di hati manusia (Burhan Sodiq).

Dalam bukunya Burhan Sodiq mengatakan, dalam Islam ada peringkat-pringkat cinta. Siapa yang harus didahulukan, siapa pula yang harus diutamakan dan siapa atau apa yang harus diakhirkan. Peringkat ini yang seharusnya dipahami oleh para remaja dan mahasiswa seperti kita. Karena, jika ada kesalahan dalam penentuan maka hal yang telah dikatakan sebelumnya mungkin akan terjadi pada kita.

Menurut Ibnul Qayyim dalam buku karangan Burhan Sodiq, seorang ulama di abad ke-7 terdapat enam peringkat cinta (maratibul-mahabah) yaitu:
©      Peringkat ke-1 dan yang paling tinggi adalah tatayyum, yang merupakan hak Allah semata. Allah-lah yang paling utama, tak ada tandingan tak ada bandingan. Allah yang seharusnya pertama dan selalu akan menjadi pertama yang tak bisa tergeserkan. Sayang, terkadang kita melupakan cinta ini. Bahkan, mungkin dari kita mendahulukan cinta kepada manusia. Lupa pada pemberi nikmat. Allah swt. Dalam firman Allah Q.S.  Al-Baqarah:165 yang artinya
“dan di antara orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah……”
Maka, bila cinta ini salah sasaran akibatnya akan fatal. Cinta tertinggi hanya untuk Allah bukan yang lain.

©        Peringkat ke-2; ‘Isyk yang hanya merupakan hak Rasulullah saw. Cinta yang melahirkan sikap hormat, patuh, ingin selalu membelanya, ingin mengikutinya, mencontohnya, dan sebagainya. Namun, bukan untuk menghambakan diri kepadanya. Dengan segenap konsekuensinya akan bangga menjalankan sunnah-sunnahnya, petunjuknya dalam mengamalkan agama Islam, mencintai kehidupannya yang luhur penuh amal shalih, rindu ingin berjumpa dengannya karena kemuliaan yang ada pada diri beliau. Namun, bukan menuntut sebuah penghambaan. Kecintaan itu menuntut sebuah amalan yang bisa meneladani akhlaknya. Dalam firman-Nya Q.S. Ali-Imran; 31 yang artinya:
“Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”
©      Peringkat ke-3; Syauq yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin yang lainnya. Antara suami istri, antara orang tua dan anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah. Dan semua itu dilandaskan Karena hanya untuk ibadah kepada Allah swt. dan melakukan juga karena cinta.
©      Peringkat ke-4; Shababah yaitu cinta sesame muslim yang melahirkan ukhuwah islamiyah. Cinta ini menuntut sebuah kesabaran untuk menerima perbedaan dan melihatnya sebuah hikmah yang berharga. Jika, cinta ini ada dan harus dimunculkan sebagai sebentuk upaya untuk menciptakan kenyamanan hubungan dalam tubuh umat Islam.
©      Peringkat ke-5; ‘Ithf (simpati) yang ditujukan kepada sesame manusia. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia, termasuk pula di dalamnya adalah berdakwah.
©      Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan sederhana, yaitu cinta atau keinginan kepada sealin manusia: harta benda. Namun, keinginan ini hanya sebatas intifa’ (pemanfaatan).  Cinta jenis ini yang sering menggelincirkan manusia. Namun, bila kita cerdas bisa kita terlena. Sebaliknya, ia bisa menjadi sarana untuk meraih cinta yang sebenarnya yaitu cinta Allah ta’ala.

Dengan hal di atas, lalu sudah di manakah cinta yang kita punya kawan-kawanku… raihlah cinta yang sejati, abadi dan terkasih yang hanya untuk Sang Penyayang. Allah swt. itulah cinta yang kita rindukan selama ini, kawan…

(Buku “Ya Allah, Aku Jatuh Cinta” karya Burhan Sodiq)
_dy_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar