Minggu, 18 September 2011

Mimpi dan Sebuah Tanggung Jawab


“Iya, Nes… nanti saya akan ganti. Maaf, Nes.” Ku hanya mampu berkata. Namun, aku pun bingung bagaimana cara untuk menggantikannya. Matahari yang menyengat di siang itu tak membuatku merasakan teriknya. Langkahku yang tak pasti dan fikiran yang entah dimana menemani dalam perjalanan menuju rumah. Sesampai di rumah, ku melihat adik bungsuku yang sedang belajar di ruang tamu. “Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam… mb Shinta, udah pulang.” Aku mencium adik tersayang yang sedang belajar matematika.
“Mas Arif mana, dek?” tanya ku tentang adik laki-lakiku.
“Mas Arif belum pulang, kak.” ku melihat sekeliling rumah. “Ayah sudah berangkat ke masjid mb. Barusan saja.” Ku lihat jam ditangan tepat pukul 15.05 WIB.
“Ibu sedang istirahat ya, dek.” Adik kecilku hanya menggangguk. Sudah beberapa hari ini kesehatan ibu semakin memburuk. Ku berjalan menuju kamar ibunda tersayang. Ibu yang berbaring di rancang membuatku tak mampu menceritakan masalah yang ku hadapi saat ini. Kumandang adzan terdengar dari masjid dekat rumah. “Sarah sudah mandi? Kalau belum mandi dulu, nanti kita salat ashar berjamaah ya.” ajak ku.
***
Dalam gelap malam, ku tak mampu berkonsentrasi untuk belajar dalam menghadapi ujian nasional beberapa minggu yang akan datang. Ku kembali terdiam, ku ambil hp yang ada disampingku. “Assalamu’alaikum. Mb, maaf mengganggu sedang sibuk?”
“Wa’alaikumussalam. gak Shin, ada apa?”
“mb, saya gak mampu sendiri menghadapi hal ini. bagaimana saya bisa memberitahukan dan meminta kepada kedua orang tua saya. Sedang, sekarang ibu berbaring sakit. Dan ayah…” ku tak mampu menahan air mataku yang kini telah pecah. Aku tahu betul dengan siapa ia akan bercerita tetang masalah yang aku hadapi. “mb, dari mana saya mendapatkan uang untuk mengganti laptop yang saya hilangkan atas keteledoran saya ini. mb…”
“Shin, jangan kamu putus asa. Berapa yang kamu butuhkan?”
“sekitar 4 juta, mb. Untuk mengganti laptopnya. Saya tahu ini keteledoran saya. Tapi, saya juga tidak mau menambah beban kedua orang tua saya.”
“untuk sekarang, mb nda ada uang sebanyak itu. Nanti, mb bantu cari.”
“nda apa-apa mb, saya cerita ke mb bukan untuk meminta bantuan. Saya hanya butuh tempat berbagi. Dengan itu saya bisa lebih nyaman. Makasih mb, maaf mengganggu. Wassalamu’alaikum” jawaban terdengar dari seberang telpon.
“mb… mb… mb…” panggil Sarah. ku berdiri dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya.
“ada apa, dek.” Dengan kepanikan, ku mengikuti langkah Sarah yang menuju kamar ibu. “ada apa, Yah.” Semua sudah berkumpul di kamar Ibu, ku lihat Ayah hanya terdiam. Terlihat wajah yang telah menua penuh cemas disamping tubuh ibu. Arif, adikku telah hadir di kamar.
“Ibu… ada apa?” ku lihat wajah yang menua melihatku dengan penuh kasih sayang. Tak mampu ku melihatnya, namun harus. Karena Ibu melihatku dengan jelas. Ku lihat Ayah, Sarah dan Arif yang juga sudah berada disampingku. Namun, tiba-tiba napas ibu tersengal tak mampu ku melihatnya dengan rasa sakit yang ia rasakan. Ku tahu betul apa yang terjadi. ku bisikkan di telinganya dengan syahadat. Dan ibu mengikuti walau sulit, kemudian……
“ibu… jangan tinggal Sarah. Sarah gak mau ditinggal ibu. Sarah sayang ibu.”
“Ibu, jangan pergi sekarang. Arif belum jadi anak yang membanggakan ibu. Arif janji gak akan membantah lagi sama ibu.” Semua menangis, ku lihat Ayah berdiri dari duduk simpuhnya dan keluar dari kamar ini. Kamar yang memberikan kesedihan yang mendalam. Ku tahu saat ini akan hadir, namun kenapa saat ini Ya Rabb. Saat aku masih membutuhkannya, juga kenapa Engkau memberikan masalah yang bertubi-tubi padaku. Aku tak mampu berada di kamar ini. ku keluar dan ku lihat Ayah yang sedang duduk berdiam.
Bagaimana aku mampu mengurusi anak-anakku, sedang aku sudah menua dan hanya sebagai guru mengaji di masjid. Fikirku, mencoba menganalisa apa yang difikirkan Ayah saat ini. “Ayah…” ku memeluk Ayah. Pelukan tangannya yang erat tak mampu menyembunyikan kesedihan yang mendalam dirinya. Ia mencoba menguatkanku dengan pelukan ini.
“kuatkan dirimu, Shin. Ayah masih ada disampingmu.” Ucap Ayah. Ku melepas pelukan dan ku lihat dimatanya ada air mata yang menggenang. Aku berdiri dan kembali ke kamar Ibu. Sedang Ayah pergi mencari bantuan untuk mengurusi beberapa hal.
Beberapa menit kemudian tetangga hadir ke rumah. Ibu Ani yang merupakan sahabat ibu memeluk Sarah yang masih menangis. Arif, lebih tenang walau masih terlihat air matanya. Sedang aku mencoba lebih tegar, ku coba menahan air mata ini. Pagi hari ibu dimakamkan, kami mengantar di tempat terakhir peristirahatan Ibu. Sesampai di rumah dari tempat pemakapan. Beberapa teman kelas, rohis sudah berada di rumah. Juga mb Ayu yang tadi malam saja aku cerita.
Mereka memberikan pelukan dan semangat untukku. Terakhir ku dengan mb Ayu, sejak tadi ku coba untuk tidak menangis. Namun, “mb Ayu…” dalam pelukannya aku kembali menangis, entah apa yang terjadi. “mb, apa yang harus saya lakukan saat ini. apa yang mampu ku lakukan.” Mb Ayu membelai rambutku yang tertutup dengan jilbab.
“dek, kamu pasti mampu. Allah tidak akan memberi cobaan lebih dari batas kemampuan hambanya. Jadi, kamu pasti mampu mengatasi cobaan ini. berusahalah, kami semua ada bersamamu dan Allah akan membantu hambanya.” Ku mecoba melepaskan pelukan itu dan menghapus air mata yang berada dipipinya.
***
Aslkm.shin,sy tunggu akhir bln ni.sy hrp s’cptny.mksh. sms dari teman yang ku hilangkan laptopnya.
Ya Allah, bagaimana aku mampu mendapatkan uang dalam waktu 2 minggu. Ucapku dalam hati ini. ku baringkan tubuh yang mulai lelah. Tepat disampingku terlihat sebuah novel yang kudapatkan dari Mb Ayu pagi, sampul dengan 5 gedung tinggi. Ku mulai membukanya, namun suara adzan isya berkumandang. Ku bangkit dari tidur ku dengan kembali menutup kembali novel yang telah ku pegang. Ku mengadu pada Allah tentang semua yang kuhadapi saat ini. Dua minggu yang akan datang ku akan menjalani ujian, dan sebuah tanggung jawab harus ku bayar. Sedang aku tak mampu membertahukan semua kepada Ayah.
Dalam malam yang sunyi dengan terang lampu yang sedikit redup, serta suara jangkrik dari luar menemaniku untuk membaca novel. Ku menangis dan semangatku membara dengan cerita yang ada di novel itu. Sebuah mantra yang ada membuatku semakin yakin mampu ku jalani semuanya. Allah tak akan memberikan sebuah cobaan lebih dari batas kemampuan umat-Nya. Dan kesungguhan akan mengalahkan dari segalanya, kecuali kuasa Allah.
***
“Assalamu’alaikum….mb Ayu, makasih ya atas bukunya. Insya Allah saya akan lebih bersemangat lagi.”
“Wa’alaikumussalam.” Senyum mb Ayu menjawabnya. “bagaimana tentang laptopnya, Shin. Masih butuh uang? Sekarang mb…”
gak usah mb, saya akan coba cari uang sendiri. Kemarin sudah mulai jadi guru privat. Terus saya juga mulai berjualan di rumah, ditambah Arif dan Sarah ikut membantu. Walau pun apa yang mereka dapatkan untuk sekolah mereka. Tapi, saya yakin Allah akan membantu saya. Untuk saat ini saya masih belum memerlukannya mb. Makasih, ketika saya butuh pertolongan mb. Saya akan bilang. Terima kasih mb, untuk semuanya.” Ucap Shinta panjang lebar. Dia bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke lokasi privatnya.
Ketika semua orang masih terlelap tidur, ku bangun yang kadang ditemani Sarah adik kecilku. Menyiapkan bahan gorengan yang akan di bawa Arif dan Saraf. Ku tak mampu meminta ke Ayah, sudah cukup beliau sedih. Ku tahu sejak sakit beberapa tahun yang lalu membuatnya tak mampu bekerja berat. Ayah kini hanya sebagai guru mengaji di masjid dekat rumah. Jika dibilang penghasilan tak ada sedikit pun. Ayah hanya bekerja sukarela, kecuali ada orang tua yang memberikan lewat Sarah. Cukup sebagai tambahan sekolah Sarah.
***
“Eny, makasih sudah jadi temen curhatku.”
“kamu pasti mampu. Aku yakin kamu mampu.”
“tapi, semua tinggal 3 hari lagi dan dari semua hasil usahaku mulai dari dagang, privat, hingga bekerja di rumah makan tempat Ibu Sri dan beberapa yang lain pun belum cukup. untuk mengganti laptop Nesya tak cukup. apalagi harus bersiap untuk masuk kuliah.”
“Shin, semua Allah yang akan membantu. Lagian, semua bukan salah kamu juga tentang masalah laptop. Kamu meminjamnya bukan untuk kamu, tapi untuk agenda kita waktu itu. Jadi…”
“tapi, tetap aku yang menghilangkannya atas keteledoran aku.” Aku kembali diam dan menunduk. “mungkin, aku tak akan bisa melanjutkan kuliah. Uang yang di tabunganku yang telah ku kumpulkan selama 10 hari ini hanya 3 juta, itu pun ditambah tabunganku dari SMP untuk biaya kuliahku.” Aku menangis, kuliah yang kudambakan. Untuk mngejar mimpiku dan harapan kedua orang tuaku. Aku tak mampu mendapatkannya.
“Shin, jangan pernah berputus asa. Allah selalu bersama kita. Masih ingat kalimat yang kamu katakan setelah beberapa hari Ibu mu meninggal. Kamu tiba-tiba datang padaku, dan mengatakan aku akan bersungguh-sungguh untuk meraih mimpiku dan bertanggung jawab dengan segalanya. Karena kamu yakin ketika kita bersungguh-sungguh semua yang kita inginkan akan kita raih.” Aku masih berfikir, sungguh aku tak mampu harus melupakan mimpiku untuk tetap kuliah. Namun, sebuah tanggung jawab harus tetap dilaksanakan. “Man jadda wajada, ingat itu. Shin. Aku ingin kamu bersemangat, semua akan membantu kamu. Insya Allah. Bagaimana?”
Aku bangkit, aku mengangkat wajahku. “ya.. aku mampu, masih ada banyak waktu. Ujian dan sebuah tanggung jawab akan ku jalani. 3 hari??? Cukup. aku yakin.” Ku tahu, 3 hari lagi. Aku harus mengganti laptop Nesya dan 3 hari lagi, ujian nasional. Dan beberapa hari ini aku melupakan untuk belajar.
***
Malam yang dingin menemaniku, tepat pukul 00.05 wib. Dan aku masih sibuk dengan buku-buku pelajaran kelas 2 SMA. Mata ini pun sudah tak mampu membuka kelopaknya. Ku tutup buku dan ku baringkan tubuhku di kasur lembut. Lusa, ujian dan tegang waktu untuk mengganti laptop Nesya. Alhamdulillah, semuanya cukup. esok akan ku belikan laptopnya. Dan ku terbenam dalam tidurku.
Sinar matahari telah hadir menemani mempersiapkan gorengan, walau mata ini masih ingin memecamkan mata. Hanya mampu tidur 2 jam saja, karena aku harus kembali mempersiapkan gorengan ini. “dek, kamu anter ke warung Bu Ani ya… Sarah, bawanya hari ini gak usah banyak-banyak. Ok.” Ucapku memberitahukan. “oh ya, Ayah udah pulang. Rif?” Arif menggeleng sambil membereskan dagangannya. “Ayah kemana ya?”
“ehm…Ayah ke rumah Pakde Salim, mb. Terus menginap, gak tahu kapan pulang. Tapi, kata Ayah malam tadi pulang. Mungkin, menginap di rumah Pakde Salim. Mb.” Aku hanya mengangguk saja tentang penjelasan Arif. Sedikit hadir kekhawatiranku ke Ayah. “mb, Arif berangkat. Assalmu’alaikum, mb… dek  ayo…” ajak Arif.
“Assalamu’alaikum…. Shinta….” Salam itu hadir dari pintu depan, ku berjalan ke depan, ternyata Ibu Ani tentang kami. Jawab salamnya dengan cepat ku lakukan. “Shinta, Arif dan Sarah sudah pergi?” aku hanya mengangguk saja. “begini, Ibu mau kasih kabar. Tadi malam Ayah mu kecelakaan di Tegineneng. Sekarang sudah ada di rumah sakit.” Aku terdiam tak mampu menjawab, ada apa lagi ini Ya Allah. Mengapa Engkau uji aku dengan segala ini. sungguh, aku masih belum mampu. Aku menangis, ibu Ani memelukku.
Ibu, aku ingin tak mau menangis kembali. tapi, aku tak sanggup dengan semua ini. “bagaimana keadaan Ayah?” ibu Ani hanya menggeleng.
***
“Ayah, besok Shinta akan ujian. Mohon do’anya ya. Ayah gak usah mikiran biaya perawatan di sini. Insya Allah, Shinta ada. Ya yah…”
“maafkan Ayah, Shin. Ayah bukan Ayah yang baik, sekarang kamu menjadi tulang punggung keluarga.”
“ayah, Shinta senang menjalaninya. Ayah gak usah merasa bersalah. Shinta yakin, Allah akan membantu Shinta, Arif, Sarah dan juga Ayah dalam menjalani ini.”
“bagaimana dengan laptop yang harus kamu gantikan, Shin?” aku tersentak kaget, bagaimana Ayah tahu tentang masalah ini.
“Ayah, tahu dari mana?”
“Ayah tahu dari sikapmu, nak. Kemudian terdengar perbincanganmu di telpon di malam meninggal ibu. Namun, Ayah mencoba menutupinya.” Aku masih terdiam. “bagaimana dengan kuliahmu? Kamu ingin kuliah kan… Ayah juga ingin kamu kuliah, biar mampu menjadi contoh buat adik-adikmu. Tapi, bagaimana sekarang….”
“Ayah, semua bisa teratasi. Shinta, bisa kuliah di tahun depan. Sekarang, Shinta fokus ke ujian dan kesembuhan Ayah. Untuk laptop itu…” aku terdiam, jujur memang sulit untukku. Uang yang sudah siap untuk membelikan harus berkurang untuk biaya Ayah di rumah sakit. Sudahlah, aku yakin pasti ada jalan keluar. “Ayah, gak usah mikirin masalah ini. Shinta bisa mengatasinya. Shinta yakin Allah akan memberikan jalan keluar dari apa yang kita harapkan.
***
“Alhamdulillah… oh ya, Shin. Anak-anak Rohis mau ketemu sama kamu. Bentar aja.” Eny mengajak.
“ada apa, En? Aku harus ke rumah sakit dan ajar privat hari ini. Tenggang waktu ku sudah habis.”
“aku tahu, ayo bentar saja.”
Masjid sudah terisi teman-teman seperjuanganku di Rohis, pasti ku rindukan ketika sudah lulus nanti. Ku lihat sosok yang sangat dekat denganku mb Ayu. “Shin…” mb Ayu mendekat kepadaku. “ini…” Mb Ayu memberikan amplop kepadaku.
“apa mb?” ku buka, uang sebesar 2juta. “mb…”
“ini semua tanggung jawab kita, Shin. Laptop itu bukan hanya tanggung jawab kamu, tapi tanggung jawab kita semua. Jangan menolaknya…” aku terdiam, ku menangis. Tak sanggup bagiku menahan tangis bersama saudari-saudariku seperjuangan di sekolah.
“Shin, dipanggil Bu Arum.” Ucap Alin yang baru hadir. “di tunggu bu Arum di ruangannya.” Aku masih bingung ada apa lagi, ada yang ingin ditanyakan kepada aku.
“sudah sana, hapus air matamu.” Ucap mb Ayu. Aku beranjak dari dudukku dan menuju ruang bu Arum.
“Assalamu’alaikum, bu… ada apa?”
“Wa’alaikumussalam… duduk. Begini, Shin. Kemarin, saya mencari kamu kemana-mana. Tapi, selalu tidak bertemu. Dan akhirnya saya memutuskan untuk…” hatiku berdegup dengan kencang, ada apa. Ujian baru hari ini. tapi apa yang terjadi, apa arah pembicaraan ini, aku kembali mendengarkan. “untuk menjadikan kamu kandidat beasiswa. Dan Alhamdulillah hari ini kita dapat jawabannya. Dan kamu mendapatkannya, beasiswa ini khusus. Semua biaya daftar ulang bebas. Kamu hanya harus lulus ujian nasional dan mengusus administrasi surat-suratnya saja.” Aku seperti tak percaya, bu Arum memberikan kabar yang sebelumnya tak pernah terduga.
“Alhamdulillah.” Aku berdiri dan langsung sujud syukur kepada Allah. Ya Allah sungguh Maha Besar Engkau Ya Rabb. Kejutan-Mu sangatlah indah. Ku kembali berdiri, “terima kasih, bu… terima kasih banyak.”
***
Dalam perjalanan menuju rumah aku masih tak percaya dengan semua ini, tambahan uang untuk mengganti laptop Nesya. Dan kabar yang tak pernah aku bayangkan beasiswa, mimpiku akan terwujud. Kuliah. Benar Allah lah yang mengatur semuanya. Dengan segala rintangan yang ku alami, namun ketika kita bersungguh-sungguh dalam menjalaninya kesuksesan akan kita raih. Man jadda wajada. Allah selalu punya rahasia yang tak mampu kita duga. Terima kasih Ya Allah, terima kasih atas semuanya.
***
Tuliskan dan ucapkan mimpi, tanggung jawab dan harapan kita…
Man jadda wajada
Pintu akan terbuka untuk kita raih…
Walau masih ada teras yang berduri…
Man shabara zhafira…


Di malam yang sunyi…
Natar. Senin, 23 Mei 2011
21.23 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar